Coding Bertahun-tahun vs AI 5 Detik: Apakah Perjuanganku Sia-sia?
Jujur, linimasa medsos belakangan ini isinya agak bikin kepikiran.
Tiap buka HP, pasti lewat demo AI baru. "Bikin website hitungan detik," atau "Generate full-stack app cuma modal prompt." Orang yang mungkin nggak paham bedanya div sama span pun tiba-tiba bisa pamer aplikasi jadi.
Melihat itu semua, wajar kalau muncul pertanyaan di kepala:
"Proses belajarku yang bertahun-tahun ini sia-sia nggak, sih?"
Investasi Waktu vs Hasil Instan
Inget banget dulu butuh waktu lama cuma buat paham konsep Memory Management. Mesti ngulik kenapa aplikasi bisa memory leak, kenapa RAM bengkak, dan gimana cara kerja garbage collector.
Belum lagi pas belajar State Management. Pindah dari sekadar "asal jalan" ke pemahaman Redux atau Context yang efisien itu butuh proses panjang.
Termasuk hal-hal kayak Clean Code, Load Balancing, sampai paham event loop di balik layar. Itu bukan ilmu instan. Itu hasil dari baca dokumentasi, debugging error log, dan nulis ulang kode berkali-kali.
Dan sekarang? AI bisa bikin kode untuk semua itu lebih cepat dari waktu yang aku butuhkan buat nyeduh kopi. Rasanya kayak pelari maraton yang udah latihan lama, tiba-tiba disalip orang naik motor listrik.
Pembedanya: Syntax vs Engineering
Tapi kalau dipikir pakai kepala dingin, ada satu hal yang membedakan. AI memang jago nulis Syntax. Dia hafal semua dokumentasi. Tapi, AI (saat ini) belum tentu bisa melakukan Engineering yang tepat.
Iseng, aku lempar keresahan ini ke Threads, dan ternyata banyak yang sependapat kalau "koding" itu bukan cuma soal nulis baris kode.
Seperti kata salah satu user yang bener-bener nampar realita:
"Kalau buat kerja gabisa vibe code mas. Dunia kerja butuh diskusi bisnis bareng partner/client. Gamelulu soal siap atau egaknya sebuah program, tpi gimana program itu di bangun juga harus bisa di komunikasikan."
Ini poin kuncinya. Komunikasi & Konteks Bisnis.
AI bisa ngasih kode Load Balancer, tapi dia nggak bisa diajak debat di ruang meeting soal "Kenapa kita butuh fitur ini buat user?" atau "Gimana dampaknya ke budget server bulan depan?".
Realita vs "Vibe Coder"
Ada juga fenomena baru yang disebut "Vibe Coding"—asal codingan jalan, urusan belakang. Seorang rekan di komunitas mengingatkan soal kalibrasi tujuan:
"Sia sia atau tidak tergantung tujuannya, kalibrasi lagi tujuan dan action supaya singkron."
Kalau tujuannya cuma buat bikin SaaS sendiri (Solopreneur), mungkin "Vibe Code" pake AI itu sah-sah aja. Gas pol. Tapi kalau tujuannya profesionalitas jangka panjang di industri, hati-hati.
Jangan sampai kita terjebak kayak sindiran pedas dari salah satu akun ini:
"Gausah dlem dalem mas vibe koder sebelah, modal kiro nunggu reload, udh berani jualan kelas jadi jutawan. Penting cuan."
Agak pedas, tapi valid. Kemudahan AI kadang bikin orang lupa kalau di dunia kerja beneran (Enterprise), kita nggak bisa cuma modal "nunggu reload". Kita butuh tanggung jawab atas setiap baris kode yang ditulis.
Bahkan ada pendapat lain yang bilang, di dunia kerja pun AI fungsinya spesifik: "buat tanya2 sama bikin fungsi2 simple". Sisanya? Otak manusianya yang jalan.
Programmer atau Cuma Tukang Ketik?
Mungkin benar, era "ngoding manual" dari nol bakal berkurang. Tapi pemahaman fundamental yang kita pelajari susah payah itu—soal memori, state, arsitektur—itu yang bakal nyelamatin kita pas AI mulai halu atau sistem crash di production.
Jadi, apakah belajar coding bertahun-tahun itu sia-sia?
Jelas nggak.
Justru karena pernah belajar manual, kita punya intuisi buat ngeliat apa yang terjadi di balik layar. Kita bukan lagi sekadar pengetik kode (Code Monkey), tapi Problem Solver yang ngerti bisnis dan sistem.
AI itu cuma alatnya, tapi pemahaman fundamental kitalah setirnya.
#opinion, #ai, #career, #mental-health
Tags
Enjoyed this article?