7 Alasan Bisnis Digital Membutuhkan Hipster, Hustler, dan Hacker
Punya ide bisnis dan developer saja belum tentu cukup untuk membangun produk digital yang layak.
Ada produk yang berhasil dibuat, tetapi tidak ada yang tertarik menggunakannya. Ada juga produk yang promosinya ramai, tetapi sistemnya belum siap. Bahkan ada produk dengan tampilan menarik yang ternyata tidak menyelesaikan masalah pengguna.
Masalah seperti ini biasanya terjadi karena produk hanya dibangun dari satu sudut pandang.
Dalam bisnis digital, ada tiga fungsi yang perlu berjalan bersama: Hipster, Hustler, dan Hacker. Ketiganya sering disebut sebagai Triple H.
Hipster memahami pengguna dan pengalaman produk. Hustler membawa produk ke pasar dan memastikan bisnisnya dapat berjalan. Sementara Hacker menerjemahkan ide tersebut menjadi sistem yang benar-benar dapat digunakan.
Berikut alasan kenapa ketiga role tersebut penting dalam membangun bisnis digital.
1. Hipster Memastikan Produk Tidak Hanya Terlihat Bagus
Hipster sering dianggap sebagai orang yang bertugas membuat desain aplikasi.
Padahal, tugasnya bukan sekadar menentukan warna, memilih font, atau membuat tampilan mengikuti tren.
Hipster perlu memahami:
- siapa pengguna produk;
- masalah yang sedang mereka hadapi;
- bagaimana kebiasaan mereka;
- informasi apa yang mereka perlukan;
- dan bagaimana produk dapat digunakan tanpa membuat mereka bingung.
Sebuah aplikasi bisa memiliki desain yang menarik, dashboard yang penuh informasi, dan animasi yang halus. Namun, semuanya menjadi percuma kalau pengguna masih harus bertanya kepada admin hanya untuk menyelesaikan satu pemesanan.
Tugas Hipster bukan sekadar membuat produk terlihat bagus, tetapi membuat produk mudah dipahami dan nyaman digunakan.
2. Hustler Memastikan Produk Benar-Benar Bertemu Pasar
Ada anggapan bahwa produk yang bagus akan mendapatkan pengguna dengan sendirinya.
Sayangnya, pasar tidak bekerja seperti itu.
Produk yang bagus belum tentu ditemukan. Produk yang bermanfaat belum tentu dipercaya. Aplikasi yang selesai dibuat juga belum tentu langsung menghasilkan bisnis.
Hustler berperan dalam menentukan:
- siapa pengguna pertama;
- bagaimana cara menjangkau mereka;
- mengapa mereka perlu menggunakan produk;
- apa yang membuat mereka bersedia membayar;
- bagaimana membangun kerja sama;
- dan dari mana bisnis mendapatkan pemasukan.
Hustler juga mencegah tim terlalu lama bersembunyi di balik proses pengembangan.
Kadang produk terus ditambah fiturnya karena dianggap belum siap diluncurkan. Padahal, masalah sebenarnya bukan kekurangan fitur. Timnya hanya belum berani mempertemukan produk dengan pengguna nyata.
Produk tidak cukup hanya selesai dibuat. Produk juga harus ditemukan, dipercaya, digunakan, dan memiliki alasan untuk terus berjalan.
3. Hacker Memastikan Ide Benar-Benar Bisa Dibangun
Sebagai developer, menurutku peran Hacker sering terlambat dilibatkan.
Founder sudah menentukan semua fitur. Desainer sudah membuat seluruh halaman. Tim bisnis bahkan mungkin sudah menjanjikan sesuatu kepada calon klien.
Setelah itu, developer baru diminta membuat semuanya menjadi nyata.
Padahal, Hacker bukan sekadar orang yang menerima desain lalu menulis kode.
Hacker perlu membantu menjawab:
- apakah idenya realistis;
- apakah sumber dayanya mencukupi;
- teknologi apa yang paling masuk akal;
- bagaimana struktur datanya;
- bagaimana keamanan penggunanya;
- bagaimana menangani transaksi yang gagal;
- dan bagaimana sistem tersebut akan dirawat.
Hacker yang baik juga tidak selalu mengiyakan semua fitur.
Kadang ia perlu mengatakan bahwa suatu fitur belum dibutuhkan, alurnya terlalu rumit, teknologi yang dipilih terlalu berat, atau proses tertentu masih lebih baik dilakukan secara manual.
Bahkan, ada kondisi ketika jawaban paling jujur dari developer adalah:
“Masalah ini belum membutuhkan aplikasi.”
4. Triple H Mencegah Produk Dibangun dari Satu Sudut Pandang
Ketiga role tersebut melihat produk dari sisi yang berbeda.
| Role | Pertanyaan utama |
|---|---|
| Hipster | Apakah produk ini dipahami dan dibutuhkan pengguna? |
| Hustler | Apakah produk ini memiliki pasar dan nilai bisnis? |
| Hacker | Apakah produk ini dapat dibangun dan dirawat? |
Kalau hanya ada Hacker, produknya mungkin canggih secara teknis, tetapi sulit digunakan dan tidak memiliki pasar.
Kalau hanya ada Hipster, produknya mungkin terlihat meyakinkan, tetapi belum tentu realistis untuk dibangun atau menghasilkan bisnis.
Kalau hanya ada Hustler, produk mungkin cepat dikenal, tetapi tim berisiko menjual sesuatu yang sebenarnya belum siap.
Masalahnya bukan menentukan role mana yang paling penting.
Masalahnya adalah memastikan ketiga fungsi tersebut hadir dan mengambil keputusan bersama.
5. Triple H Membantu Menentukan MVP yang Lebih Masuk Akal
Triple H juga penting ketika menentukan MVP atau versi awal sebuah produk.
Hustler membantu memastikan masalah yang dipilih memang dirasakan pasar.
Hipster membantu memahami bagaimana pengguna menyelesaikan masalah tersebut.
Hacker membantu menentukan solusi paling sederhana yang masih realistis untuk dibangun.
Prosesnya dapat digambarkan seperti ini:
Dari proses tersebut, MVP tidak dibangun hanya berdasarkan daftar fitur.
MVP dibangun berdasarkan tiga pertimbangan:
- Apakah pengguna membutuhkannya?
- Apakah bisnis mendapatkan nilai?
- Apakah sistem sanggup dibangun dan dirawat?
Dengan begitu, produk tidak sekadar memiliki sedikit fitur, tetapi memiliki satu manfaat utama dan alur yang benar-benar selesai.
6. Triple H Tidak Harus Diisi oleh Tiga Founder Berbeda
Konsep Triple H bukan berarti setiap bisnis digital wajib memiliki tiga founder.
Dalam tim kecil, satu orang bisa menjalankan lebih dari satu fungsi.
Seorang developer bisa ikut berbicara dengan pengguna dan memahami kebutuhan bisnis. Seorang desainer bisa ikut menyusun strategi produk. Founder nonteknis juga dapat memahami dasar pengalaman pengguna dan proses pengembangan.
Kalau kemampuan tertentu belum tersedia di dalam tim, fungsi tersebut dapat dipenuhi melalui kolaborasi.
Contohnya:
- founder bekerja dengan developer eksternal;
- developer melibatkan UI/UX designer;
- tim berkonsultasi dengan orang yang memahami pemasaran;
- atau pemilik bisnis bekerja bersama software house.
Yang terpenting bukan jumlah orangnya, tetapi hadirnya ketiga cara berpikir tersebut.
7. Triple H Mengurangi Risiko Produk Berakhir Mangkrak
Banyak produk digital mangkrak bukan karena timnya tidak bekerja keras.
Produknya berhenti karena sejak awal tidak dibangun secara seimbang.
Ada tim yang terlalu fokus pada pengembangan, tetapi tidak memiliki strategi pasar.
Ada tim yang terlalu cepat mencari pengguna, tetapi produknya belum siap.
Ada juga tim yang sibuk membuat desain lengkap tanpa mempertimbangkan biaya dan kompleksitas teknisnya.
Triple H membantu setiap keputusan dilihat dari tiga arah.
Ketika sebuah fitur hanya terlihat menarik, Hipster dapat mempertanyakan manfaatnya bagi pengguna.
Ketika fitur bagus untuk pengguna tetapi belum memberikan nilai bisnis, Hustler dapat mempertanyakan prioritasnya.
Ketika fitur penting tetapi terlalu mahal atau berisiko, Hacker dapat menawarkan pendekatan yang lebih sederhana.
Hasilnya bukan produk yang memiliki fitur sebanyak mungkin.
Hasil yang dicari adalah produk yang:
- dibutuhkan pengguna;
- memiliki arah bisnis;
- realistis untuk dibangun;
- dapat digunakan;
- dan masih bisa dikembangkan.
Kesimpulan
Membangun bisnis digital bukan sekadar memiliki ide lalu mencari orang yang bisa membuat aplikasinya.
Ada pengguna yang perlu dipahami, bisnis yang perlu dijalankan, dan teknologi yang harus dibangun serta dirawat.
Hipster memastikan produk memahami manusia.
Hustler memastikan produk memiliki pasar dan arah bisnis.
Hacker memastikan ide dapat diwujudkan menjadi sistem yang benar-benar bekerja.
Kalau kamu sedang merencanakan produk digital, jangan langsung memulai dari daftar fitur.
Coba lihat terlebih dahulu apakah fungsi Hipster, Hustler, dan Hacker sudah hadir dalam prosesnya.
Karena kadang sebuah produk bukan kekurangan fitur.
Produk tersebut hanya dibangun dari satu sudut pandang, lalu berharap dua sudut pandang lainnya akan muncul dengan sendirinya.
Tags
Enjoyed this article?